Story from North Sumatra, Indonesia
by Yus Rusila Noor, Wetlands International Indonesia/Yayasan Lahan Basah (YLBA)

Ini adalah kisah kerja kami bersama masyarakat lokal dalam pengelolaan lahan gambut di Sumatera Utara

I am currently employed at Wetlands International Indonesia, a national non-governmental organization (NGO) that is part of a global network with operations in Asia, Europe, Latin and Central America, and Africa. The Global Office is located in Ede-Wageningen, the Netherlands.
The strategic initiatives of Wetlands International Indonesia are organized into three key streams: Delta and Coast, River and Lake, and Peatland. Within this operational framework, the organization has delineated six thematic focuses that represent the anticipated outcomes of its work. These outcomes provide a foundational structure for operational activities across each of the Streams. It is important to note that each outcome may encompass activities that span multiple Streams or even integrate all three.
Ultimately, the execution of the strategies outlined at the Outcome levels is expected to yield significant impacts in three critical areas: Healthy Wetlands, Resilient Wetland Communities, and Reduced Climate Risk.
Saat ini saya bekerja di Wetlands International Indonesia, sebuah organisasi non-pemerintah (LSM) Nasional Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan global yang beroperasi di Asia, Eropa, Amerika Latin dan Tengah, dan Afrika. Kantor Global berlokasi di Ede-Wageningen, Belanda.
Inisiatif strategis Wetlands International Indonesia disusun menjadi tiga arus utama: Delta dan Pesisir, Sungai dan Danau, dan Lahan Gambut. Dalam kerangka operasional ini, organisasi telah menggambarkan enam fokus tematik yang mewakili hasil yang diantisipasi dari pekerjaannya. Hasil ini memberikan struktur dasar untuk kegiatan operasional di setiap Arus. Penting untuk dicatat bahwa setiap hasil dapat mencakup aktivitas yang mencakup beberapa Arus atau bahkan mengintegrasikan ketiganya.
Pada akhirnya, pelaksanaan strategi yang diuraikan pada tingkat Hasil diharapkan menghasilkan dampak yang signifikan di tiga bidang kritis: Lahan Basah Sehat, Komunitas Lahan Basah yang Tangguh, dan Mengurangi Risiko Iklim.


Indonesia’s commitment on global efforts on tackling climate change, especially through the sustainable management of wetlands, is expressed in the latest country’s Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) with increased emission reduction target from 29% in First NDC and Updated NDC to 31.89% unconditionally and from 41% in the Updated NDC to 43.20% conditionally. This Enhanced NDC is the transition towards Indonesia’s Second NDC which will be aligned with the Long-Term Low Carbon and Climate Resilience Strategy (LTS-LCCR) 2050 with a vision to achieve net-zero emission by 2060 or sooner.
Furthermore it refers to restoring functions of degraded ecosystems, including wetland ecosystems like peatlands, as a necessary prerequisite for embarking on a more ambitious commitment to further reductions by 2030. On the current commitment, Indonesia has set up an ambitious target to restore 2 million ha of peatlands by 2030.
Komitmen Indonesia terhadap upaya global dalam mengatasi perubahan iklim, terutama melalui pengelolaan lahan basah yang berkelanjutan, diungkapkan dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC) terbaru dengan peningkatan target pengurangan emisi dari 29% pada NDC Pertama dan NDC yang diperbarui menjadi 31,89% tanpa syarat dan dari 41% dalam NDC yang diperbarui menjadi 43,20% secara kondisional. Enhanced NDC ini merupakan transisi menuju NDC Kedua Indonesia yang akan selaras dengan Long-Term Low Carbon and Climate Resilience Strategy (LTS-LCCR) 2050 dengan visi untuk mencapai net-zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.
Selain itu, ini mengacu pada pemulihan fungsi ekosistem yang terdegradasi, termasuk ekosistem lahan basah seperti lahan gambut, sebagai prasyarat yang diperlukan untuk memulai komitmen yang lebih ambisius untuk pengurangan lebih lanjut pada tahun 2030. Atas komitmen saat ini, Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk memulihkan 2 juta hektar lahan gambut pada tahun 2030.

A momentum for the restoration of degraded peatlands in this most important global peatland’s harbor is the release of Presidential Regulation (2016) to establish a dedicated Peatland Restoration Agency (BRG). This was Indonesia’s leading initiative on the coordination of peatlands restoration efforts nation-wide. As the mandate of the Agency has finished on 2020, a renewal of, an even bigger, institution established in 2020 under a Presidential Regulation, which is called the Peatland and Mangrove Restoration Agency (BRGM). The main task of this agency is to facilitate the acceleration of the restoration of 1.2 millions hectares of peatlands and 600,000 hectares of mangroves; using rewetting of drained peatlands and revegetating landscape principles, and at the same time revitalizing or improving livelihoods of communities in the targeted areas. Our project has contributed in the provision of successful field examples on the implementation of this nation-wide peatlands restoration.
Momentum pemulihan lahan gambut yang terdegradasi di wilayah gambut terpenting di dunia ini adalah terbitnya Peraturan Presiden (2016) untuk membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG). Ini adalah inisiatif utama Indonesia dalam koordinasi upaya restorasi lahan gambut di seluruh negeri. Mandat Badan tersebut telah selesai pada tahun 2020, sebagai pembaharuan, dibentuk lembaga yang lebih besar pada tahun 2020, dengan Peraturan Presiden, yang disebut Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Tugas utama lembaga ini adalah memfasilitasi percepatan restorasi lahan gambut seluas 1,2 juta hektar dan mangrove 600.000 hektar; menggunakan pembasahan kembali lahan gambut yang telah kering dengan prinsip-prinsip revegetasi lanskap, dan pada saat yang sama merevitalisasi atau meningkatkan mata pencaharian masyarakat di daerah yang ditargetkan. Proyek kami telah berkontribusi dalam penyediaan contoh lapangan yang sukses pada implementasi restorasi lahan gambut nasional ini.

Initially Indonesia has estimated 21 Million ha of tropical peatlands, about 300 times of Singapore; this is 60% of South East Asian and 50% of tropical peatlands. Millions of rural Indonesians directly depend on peatland resources for their livelihood. Peatlands provides water supply, flood control, and biodiversity habitat. Healthy peatland ecosystems are resistant to fire; degraded ones burn easily. Over the 10 years of 1990s, 70 million people are estimated to have suffered adverse health effects, many seriously. Peatlands play a crucial role in climate change mitigation & adaptation, only cover 3% of the worlds land area but contain twice the carbon stock in total of global forest biomass. Emissions from peatland drainage, degradation and fires account for approx. 5% of global anthropogenic Greenhouse Gas Emissions. The great 1997 – 98 fires alone accounted for 40% of global carbon release and caused approximately US$ 9 billion in damages to SE Asia.
This crucial role of peatlands was also stressed by The Global Convention on Wetlands, Ramsar. It urged the world that 50 million hectare of peatland needs to be restored by 2050 to meet the 1.5C target in the Paris Agreement, in the Global Guidelines for Peatland Rewetting and Restoration issued by Ramsar in 2021
Awalnya Indonesia diperkirakan memiliki 21 Juta ha lahan gambut tropis, sekitar 300 kali Singapura; ini adalah 60% dari Asia Tenggara dan 50% dari lahan gambut tropis global. Jutaan masyarakat pedesaan Indonesia secara langsung bergantung pada sumber daya lahan gambut untuk mata pencaharian mereka. Lahan gambut menyediakan pasokan air, pengendalian banjir, dan habitat keanekaragaman hayati. Ekosistem lahan gambut yang sehat tahan terhadap api; yang terdegradasi mudah terbakar. Selama 10 tahun 1990-an, 70 juta orang diperkirakan telah menderita dampak kesehatan yang merugikan, banyak yang serius. Lahan gambut memainkan peran penting dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, hanya mencakup 3% dari luas daratan dunia tetapi mengandung dua kali cadangan karbon dari total biomassa hutan global. Emisi dari drainase, degradasi, dan kebakaran lahan gambut menyumbang sekitar 5% dari Emisi Gas Rumah Kaca antropogenik global. Kebakaran besar 1997 – 98 saja menyumbang 40% dari pelepasan karbon global dan menyebabkan sekitar US$ 9 milyar kerusakan di Asia Tenggara.
Peran penting lahan gambut ini juga ditekankan oleh Konvensi Global tentang Lahan Basah, Ramsar. Mereka mendesak dunia bahwa 50 juta hektar lahan gambut perlu dipulihkan pada tahun 2050 untuk memenuhi target 1,50C dari Perjanjian Paris, dalam Pedoman Global untuk Pembasahan dan Restorasi Lahan Gambut yang dikeluarkan oleh Ramsar pada tahun 2021

Peatlands are a living place for millions of people, directly depend on peatland resources
Lahan gambut adalah tempat tinggal jutaan orang, secara langsung bergantung pada sumber daya lahan gambut

The chain of problems in peatlands in Indonesia pointed into the unsustainable use of peatlands for economic purposes. The illegal logging, and especially the drainage of peatlands for agricultural and estate business has lead into the forest and land fires which directly resulted into climate change disaster due to huge carbon emission. Local communities are the closest directly impacted by the disaster in term of health problem, and loss of livelihoods.
Rantai permasalahan di lahan gambut di Indonesia mengarah pada pemanfaatan lahan gambut yang tidak berkelanjutan untuk tujuan ekonomi. Penebangan liar, dan terutama drainase lahan gambut untuk bisnis pertanian dan perkebunan telah menyebabkan kebakaran hutan dan lahan yang secara langsung mengakibatkan bencana perubahan iklim akibat emisi karbon yang sangat besar. Masyarakat lokal adalah yang paling terdampak langsung oleh bencana dalam hal masalah kesehatan, dan hilangnya mata pencaharian.

Under the Eco-DRR program, scalable models for community-based Eco-DRR are developed. The overall objective of the project is to increase community resilience in peat ecosystems, and enabling for sustainable development. The specific objective is to increase the ECO DRR practices in peatland ecosystem that contribute to increasing the resilience of communities. We are working in the grass root level but keep engaging with local to national level stakeholders for mainstreaming the Eco-DRR approach and model for upscaling. The Eco-DRR upscaling model includes interventions on Ecosystem Restoration/Protection, Climate smart livelihoods and Disaster Risk Reduction. Through this approach, we are promoting the rehabilitation of peatlands through paludiculture techniques (native peat species), community engagement using financial support and conservation measures (through so-called bio-rights schemes), and encourage local communities to prevent, monitor and respond to peat fires.
Di bawah program Eco-DRR, model yang dapat diskalakan untuk Eco-DRR berbasis komunitas dikembangkan. Tujuan keseluruhan dari proyek ini adalah untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di ekosistem gambut, dan memungkinkan pembangunan berkelanjutan. Tujuan spesifiknya adalah untuk meningkatkan praktik ECO PRB di ekosistem lahan gambut yang berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan masyarakat. Kami bekerja di tingkat akar rumput tetapi terus terlibat dengan pemangku kepentingan tingkat lokal hingga nasional untuk mengarusutamakan pendekatan dan model Eco-PRR untuk peningkatan skala. Model peningkatan Eco-DRR mencakup intervensi pada Restorasi/Perlindungan Ekosistem, mata pencaharian cerdas iklim dan Pengurangan Risiko Bencana. Melalui pendekatan ini, kami mempromosikan rehabilitasi lahan gambut melalui teknik paludikultur (spesies gambut asli), keterlibatan masyarakat menggunakan dukungan keuangan dan langkah-langkah konservasi (melalui apa yang disebut skema Bio-Rights), dan mendorong masyarakat lokal untuk mencegah, memantau, dan menanggapi kebakaran gambut.

We are using the Bio-Rights approach as a kind of bonding mechanism for interest-free conditional loans, linking nature-based solutions initiatives and increasing people’s incomes. The main goal is to increase the functionality of the ecosystem, which takes a long time. While waiting, community groups received assistance to increase their income. Group members are encouraged to fulfill the entire “package of agreement”, or at least meet a certain percentage agreed upon at the outset. If this is achieved, the conditional loan will then be converted into a grant
Kami menggunakan pendekatan Bio-Rights sebagai semacam mekanisme ikatan untuk pinjaman bersyarat tanpa bunga, menghubungkan inisiatif solusi berbasis alam dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan fungsionalitas ekosistem, yang membutuhkan waktu lama. Sambil menunggu, kelompok masyarakat mendapatkan bantuan untuk meningkatkan pendapatan. Anggota kelompok didorong untuk memenuhi seluruh “paket perjanjian”, atau setidaknya memenuhi persentase tertentu yang disepakati di awal. Jika ini tercapai, pinjaman bersyarat kemudian akan diubah menjadi hibah

Taking a Bio-Rights approach requires a systems approach, so instead of just determining specific technical solutions to address local problems, it is even more important to apply a systems approach, which means linking what happens to ecosystem and hydrological processes with social, institutional and economic processes. So apply it in a large landscape and see the possibilities of all interacting. This slide shows that the joint dialogue at the beginning of the activity is the key to the success of all work and an important factor in sustainability, through the application of adaptive management principles
Mengambil pendekatan Bio-Rights membutuhkan pendekatan sistem, jadi alih-alih hanya menentukan solusi teknis khusus untuk mengatasi masalah lokal, bahkan lebih penting untuk menerapkan pendekatan sistem, yang berarti menghubungkan apa yang terjadi pada ekosistem dan proses hidrologi dengan proses sosial, kelembagaan dan ekonomi. Jadi, terapkan di lanskap yang luas dan lihat kemungkinan semua berinteraksi. Slide ini menunjukkan bahwa dialog bersama di awal kegiatan merupakan kunci keberhasilan semua pekerjaan dan faktor penting dalam keberlanjutan, melalui penerapan prinsip-prinsip manajemen adaptif

The assignment of field facilitator(s) to work directly and stay at community neighborhood is a vital for the successful program development, monitoring and evaluation and conflict resolution at the earliest possibilities. Understanding the root cause of the problem and finding common action to solution together with local communities, in coordination with village government, is a key on fulfillment of agreed objective of the initiative.
Penugasan fasilitator lapangan untuk bekerja langsung dan tinggal secara penuh waktu di lingkungan masyarakat sangat penting untuk keberhasilan pengembangan program, pemantauan dan evaluasi dan resolusi konflik sedini mungkin. Memahami akar penyebab masalah dan menemukan tindakan bersama untuk solusi bersama dengan masyarakat setempat, berkoordinasi dengan pemerintah desa, adalah kunci pemenuhan tujuan inisiatif yang disepakati.

As part of the Bio-Rights mechanism, various community-driven measures were implemented as part of the agreed actions, including 1) building of canal blocking to effectively block the water in the upstream of village, 2) Community group initiatives to monitor the planted native peat species, 3) Community participation in peat fires fighting, 4) Construction of a fires monitoring tower voluntarily built by community groups, 5) Actively conducting regular peat ground water monitoring, and 6) Training on the production of fish-based (aquaculture) food products
Sebagai bagian dari mekanisme Bio-Rights, berbagai tindakan yang digerakkan oleh masyarakat dilaksanakan sebagai bagian dari tindakan yang disepakati, termasuk 1) pembangunan sekat kanal untuk secara efektif menahan air di hulu desa, 2) Inisiatif kelompok masyarakat untuk memantau spesies gambut asli yang ditanam, 3) Partisipasi masyarakat dalam pemadaman kebakaran gambut, 4) Pembangunan menara pemantau kebakaran yang dibangun secara sukarela oleh kelompok masyarakat, 5) Secara aktif melakukan pemantauan air tanah gambut secara berkala, dan 6) Pelatihan produksi produk pangan berbasis ikan (akuakultur)

The effectiveness of Bio-Rights approach partly determined with the attractedness of local community to be actively participated on the agreed rehabilitation measures which are integrated with the diversification and improvement of local community livelihood. The change of mindset that peatland destruction will have destructive impact to their livelihood, or on the other perspective that improved peatland ecosystem healthy will also improve their livelihood, will establish a genuine connection on the protection of natural ecosystem and voluntarily restoring the degraded one.
Efektivitas pendekatan Bio-Rights sebagian ditentukan oleh ketertarikan masyarakat lokal untuk berpartisipasi aktif dalam langkah-langkah rehabilitasi yang disepakati dan terintegrasi dengan diversifikasi dan peningkatan mata pencaharian masyarakat lokal. Perubahan pola pikir bahwa perusakan lahan gambut akan berdampak destruktif terhadap mata pencaharian mereka, atau pada perspektif lain bahwa peningkatan ekosistem lahan gambut yang sehat juga akan meningkatkan mata pencaharian mereka, akan membangun hubungan yang tulus pada perlindungan ekosistem alam dan secara sukarela memulihkan ekosistem yang terdegradasi.

Identification of the relevant national initiatives in peat restoration is essential for upscaling. The project has engaged the key national agencies among others : BRGM, National DM Agency, National Development Planning Agency and Ministry of Village to share the results and model. It has been successful to advocate the model into national training programme especially on the development of peatland management without burning training manual.
Identifikasi inisiatif nasional yang relevan dalam restorasi gambut sangat penting untuk peningkatan skala. Proyek ini telah melibatkan lembaga-lembaga nasional utama antara lain: BRGM, Badan DM Nasional, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kementerian Desa untuk berbagi hasil dan model. Telah berhasil untuk mengadvokasi model tersebut ke dalam program pelatihan nasional terutama pada pengembangan manajemen lahan gambut tanpa membakar manual pelatihan.

This slide presents some of the lessons learned during the project. It ranges from the effectiveness of the Bio-Rights approach on the engagement of local community on stewardship of environment, strong interest on the upscaling of ECO-DRR as a way to gain multiple benefits as well as local community and government participation on influencing policy making. We are also observing a challenge to align multiyear Bio-Rights mechanism into government’s annual budgeting system
Slide ini menyajikan beberapa pelajaran yang dipetik selama proyek. Ini berkisar dari efektivitas pendekatan Bio-Rights pada keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan lingkungan, minat yang kuat pada peningkatan ECO-PRB sebagai cara untuk mendapatkan banyak manfaat serta partisipasi masyarakat lokal dan pemerintah dalam mempengaruhi pembuatan kebijakan. Kami juga mengamati tantangan untuk menyelaraskan mekanisme Bio-Rights multitahun ke dalam sistem penganggaran tahunan pemerintah

Our work is not completed yet. It is actually in an important period when local community and local government has started to seen the effectiveness of our intervention, not only for the environment protection’s perspective, but also more importantly for the development of sustainable livelihood, linking with the peatland protection and restoration. We appeal global support to keep the momentum alive, and to convince our local community that local action is a big matter for global efforts to tackle climate change issue.
Pekerjaan kami belum selesai. Justru sebenarnya dalam periode penting ketika masyarakat lokal dan pemerintah daerah mulai melihat efektivitas intervensi kami, tidak hanya untuk perspektif perlindungan lingkungan, tetapi juga yang lebih penting untuk pengembangan mata pencaharian berkelanjutan, terkait dengan perlindungan dan restorasi lahan gambut. Kami mengimbau dukungan global untuk menjaga momentum tetap hidup, dan untuk meyakinkan komunitas lokal kami bahwa tindakan lokal adalah sumbangan besar bagi upaya global untuk mengatasi masalah perubahan iklim.

yus.noor@gmail.com
