English scroll down
…bukan hal mudah bagi kami sekarang ini untuk menentukan waktu yang tepat supaya dapat berjalan berempat. Akhirnya, disepakati untuk mengambil cuti dengan menyesuaikan waktu libur anak sulung, yang berprofesi sebagai Pengajar. Jadilah pertengahan September 2024 kami berlibur ke Garut, Jawa Barat. Tidak ada alasan khusus sebenarnya kenapa dipilih Garut. Pertimbangannya lebih kepada jaraknya yang tidak terlalu jauh, sehingga dapat menghabiskan 4 hari dengan tidak terburu-buru, meskipun dirasa masih kurang.
Kami memutuskan untuk tidak membawa kendaraan sendiri, karena ingin lebih santai dan dapat menikmati perjalanan tanpa dipusingkan oleh urusan kendaraan. Moda transportasi yang dipilih adalah Kereta Api, karena relatif lebih pasti waktunya dan biayanya lebih terjangkau. Dari Stasiun Gambir berangkat teng jam 9.30 pagi menggunakan KA Pangandaran, yang benar-benar berangkat tepat waktu. Sempat berhenti di Bekasi, Cimahi, Bandung, Kiaracondong dan berakhir di stasiun Cibatu. Sebetulnya ada yang berhenti di stasiun Garut, tapi kereta berangkat jam 6.30 pagi, sehingga kurang nyaman, kalau harus berangkat terlalu pagi dari Bogor.
Perjalanan Jakarta – Cibatu dilalui dengan sangat menyenangkan, dan saya sama sekali tidak tidur karena sangat disibukan dengan mengambil foto-foto. Dari Jakarta sampai Bekasi lebih didominasi oleh bangunan perumahan, sementara pemandangan sawah berundak yang indah tersaji antara Purwakarta sampai Cimahi. Setelah itu, perumahan dan bangunan kota kembali tersaji hingga Kiaracondong, dan baru setelah itu kembali menikmati pemandangan sawah, kebun dan gunung-gunung hingga tiba di stasiun Cibatu. Dari sini kami dijemput oleh Pak Ubun, yang direkomendasikan oleh teman SMP saya, yang kebetulan tinggal di Garut.
Perjalanan pertama dari stasiun Cibatu adalah menuju ke Jalan Sukaregang, yang sangat mashur sebagai tempat penjualan kerajianan dari kulit. Di perjalanan, sempat mampir untuk makan siang di RM Sugema, prasmanan masakan Sunda yang amat sangat cocok dengan selera kami. Alhamdulillah, enak dan cukup ramah di kantong.
Di kota Garut, kami menjelajah berbagai sudut Sukaregang yang penuh dengan berbagai kerajinan dari kulit. Saya perhatikan, berbagai barang dengan kualitas yang selintas sangat baik, ternyata dijual dengan harga boleh dibilang setengahnya dari barang sama yang dijual di Bogor. Dompet, sandal dan tas wanita bahkan dibandrol mulai dari Rp50.000. Tentu ada yang barang dengan kualitas premium, tetapi tetap saja sangat lebih murah dibandingkan dengan yang saya tahu di Bogor atau apalagi Jakarta. Yang murah-meriah, ada juga gantungan kunci dengan harga mulai Rp.5.000 – Rp.10.000.
Untuk makanan, kami belanja oleh-oleh di satu toko yang khusus menjual berbagai macam makanan dan penganan. Tentu dodol, dorokdok dan burayot menjadi incaran pertama. Yang lebih klasik, kami mampir di Patisserie yang telah berjualan sejak 1885. Suasana klasik dan elegan menyertai pajangan kopi khas dan berbagai kue dan roti yang memiliki kesan anggun.
Tempat kami menginap adalah di Kampung Sampireun_, resort_ dengan sebuah situ yang dikelilingi oleh panggung-panggung bambu berdinding bilik. Dari kota Garut perjalanan ditempuh sekitar 1 jam lebih, melalui jalan yang tidak terlalu lebar, sehingga harus banyak sabar menunggu sepeda motor di depan. Kami sebenarnya sudah pernah kesini tahun 2012, tapi tidak sempat menginap karena saat itu harus booking dulu.
Perjalanan 4 hari di Garut harus berakhir, dan kami Kembali ke Jakarta/Bogor dengan menggunakan Kereta Panoramik dari rangkaian kereta Papandayan, memulai dari stasiun Garut. Ya, betul, pulangnyapun tentu tidak bisa tidur karena dengan kaca yang super luas dan bening, maka memori HP banyak digunakan di sepanjang perjalanan.
Karena ini adalah photoblog, jadi saya ceritakan pengalaman perjalanan kami melalui foto, yang semoga bisa bercerita banyak. Saya mengambil seluruh foto dengan menggunakan smartphone Samsung Galaxy S24 Ultra dan Oppo Renno F10 5G. Sengaja saya perjelas merek dan tipenya, karena ketika fotonya bagus, maka komentar yang saya terima adalah berupa pertanyaan, “apa kameranya?”, tapi kalau kurang bagus, maka tidak ada komentar, karena sudah tahu siapa yang ambil fotonya … Nasib fotografer 😊
Mangga, silakan untuk dinikmati. Kalau ada foto yang cocok, silakan untuk digunakan, asal jangan untuk keperluan promosi komersial, dan jangan lupa sebutkan sumbernya.
Salam … !!!
…. It’s kinda tough figuring out when to take a trip with whole family members together nowadays. But we finally settled on a plan! We adjusted our vacation around the oldest kid’s schedule since he’s a teacher who has a fix yearly schedule. So, come mid-September 2024, we’re all set to hit up Garut in West Java! No big reason for choosing Garut, really. We just wanted somewhere close enough to chill out for 4 days without feeling rushed, even if it still doesn’t feel like enough time.
We decided to leave our own wheels behind and go for a more laid-back vibe, focusing on enjoying the journey instead of worrying about car stuff. We picked the train as our ride, mainly because it’s more predictable and won’t break the bank. We left Gambir Station at 9:30 AM on the Pangandaran Train, which was on the dot. The train made stops at places like Bekasi, Cimahi, Bandung, Kiaracondong, and wrapped up at Cibatu Station. There’s actually one that stops at Garut Station, but it departs at 6:30 AM from Jakarta, and who wants to leave so early from Bogor, right?
The ride from Jakarta to Cibatu was a blast! I didn’t even doze off because I was too busy snapping pics. From Jakarta to Bekasi, it’s mostly just a sea of houses, but then you get treated to these stunning terraced rice fields between Purwakarta and Cimahi. After that, it’s back to the urban scene until Kiaracondong, then it’s back to those gorgeous views of rice fields, gardens, and mountains all the way to Cibatu. Upon arrival, Mr. Ubun picked us up—he came highly recommended by a friend from middle school who lives in Garut.
First stop out of Cibatu Station was Jalan Sukaregang, a well-known spot for leather crafts. On our way, we stopped for lunch at Sugema Restaurant, a buffet serving up delicious Sundanese dishes that totally hit the spot! Alhamdulillah, it was so good and pretty wallet-friendly too.
While we were exploring Garut, we checked out all the cool leather shops in Sukaregang. I was shocked at the prices—everything was of really great quality, selling for around half of what you’d find in Bogor. Wallets, sandals, and women’s bags started as low as Rp. 50,000. Yup, there are premium items, but honestly, they felt so cheap compared to what I know from Bogor or especially Jakarta! You could even snag leather keychains starting at Rp. 5,000 to Rp. 10,000!
For foods, we hit up a shop that sells all sorts of local goodies. You bet we went straight for dodol, dorokdok, and burayot! And for something a bit more classic, we made a pit stop at a Patisserie, which has been around since 1885. The vibe there was so classy and elegant, plus they had signature coffee and a tasty assortment of cakes and breads on display.
Our stay was at Kampung Sampireun, a resort with bamboo stages surrounding a lake and walls made of rooms. It took about an hour to get there from downtown Garut, and the roads were pretty narrow, so we had to be patient with the bikes in front of us. Funny enough, we had gone there back in 2012 but didn’t get to stay since we needed to book ahead back then.
Our 4-day Garut adventure came to an end, and we headed back to Jakarta/Bogor on the Panoramic Train from the Papandayan series, leaving from Garut Station. Yup, you guessed it—I couldn’t sleep on the way back either! The wide open glass windows made it impossible not to take a ton of pics!
Since this is a photoblog, I’ll share our travel tales through photos. I snapped all the pics using my Samsung Galaxy S24 Ultra and Oppo Reno F10 5G smartphones. Thought I’d mention the brands and models since people are always asking about my camera when the photos turn out great. But when they flop, crickets—everyone knows who snapped the not-so-great shots… Ah, the life of a photographer! 😊
Please help yourself, feel free to enjoy! If you find some photos that fit, go ahead and use them, just remember not to use them for any commercial promotion and give a shoutout for the source!!
Memulai Perjalanan dari Stasiun Gambir, Jakarta. Kereta Api Pangandaran





Pemandangan di Sepanjang Perjalanan dari Jakarta menuju Garut dan Sebaliknya


Parade keindahan persawahan dan kebun














































Berjalan di Kota Garut

















Moment of Truth, Kampung Sampireun














Kampung Sampireun di senja – malam

















Kampung Sampireun di pagi – siang












































Selamat Tinggal Garut … We shalll return

Kembali ke Jakarta/Bogor bersama kereta Panoramik Papandayan






Kampung Sampireun dalam tangkapan monochrome















yus.noor@gmail.com, ngobrol dengan saya kalau membutuhkan foto dalam resolusi lebih besar
